Senioritas di Kantor Dinas: Yang Muda Kerja, Yang Tua Bernostalgia

Mari kita kembali ke meja kayu yang sama, seruput kopi hitammu—yang mungkin sudah dingin karena terlalu lama kita bincangkan—dan mari kita bicarakan soal sebuah struktur kasta tak kasat mata yang lebih kokoh dari beton gedung sekretariat daerah: yaitu Senioritas.

Ini adalah esai tentang “Arkeologi Birokrasi”. Sebuah telaah tentang bagaimana kantor-kantor dinas kita sering kali berubah menjadi museum kenangan, di mana yang muda menjadi mesin penggerak, sementara yang tua menjadi penjaga prasasti masa lalu.

Yang Muda Kerja, Yang Tua Bernostalgia

Di kantor dinas mana pun di republik ini, ada sebuah hukum alam yang tidak tertulis dalam Undang-Undang ASN, namun dipatuhi lebih ketat daripada aturan jam masuk kantor. Hukum itu berbunyi: “Hormatilah seniormu, meski dia tidak tahu cara mengubah file Word menjadi PDF.”

Senioritas adalah bumbu utama dalam masakan birokrasi kita. Ia adalah perekat sekaligus penghambat. Di satu sisi, ia menjaga sopan santun dan tata krama. Di sisi lain, ia sering kali menjadi tembok besar yang menghalangi laju inovasi. Di kantor dinas, kita akan sering melihat pemandangan yang kontras: staf muda yang matanya merah karena menatap layar monitor 12 jam sehari, sementara di kubikel sebelah, seorang senior sedang asyik bercerita tentang betapa hebatnya zaman kepemimpinan Bupati dua dekade lalu.

Kasta “Anak Baru” dan Mesin Pengetik Otomatis

Bagi seorang pegawai muda yang baru masuk—entah itu CPNS atau honorer—dia harus sadar bahwa statusnya adalah “asisten segalanya”. Di tangannyalah tumpukan disposisi akan bermuara. Senioritas memberikan hak istimewa bagi mereka yang sudah berambut perak atau yang masa kerjanya sudah dua digit untuk mendelegasikan hampir seluruh pekerjaan teknis kepada yang muda.

“Tolong ya, Mas/Mbak, saya kurang paham aplikasi ini. Maklum, faktor usia,” adalah kalimat sakti yang sering digunakan untuk melimpahkan beban kerja. Akibatnya, terjadilah ketimpangan beban kerja yang luar biasa. Yang muda mengerjakan draf laporan, menginput data aplikasi, menyiapkan bahan paparan, hingga mengurus urusan personal seniornya—seperti membelikan pulsa atau memesankan ojek online.

Sementara itu, sang senior merasa tugas utamanya adalah memberikan “bimbingan moral” dan “arahan strategis”. Masalahnya, arahan strategis itu sering kali hanyalah pengulangan cerita-cerita lama yang sudah tidak relevan dengan tantangan zaman digital.

Nostalgia sebagai Pelarian dari Ketidaktahuan

Kenapa yang tua hobi bernostalgia? Karena nostalgia adalah zona nyaman. Di dunia birokrasi yang sekarang serba aplikasi, serba cepat, dan serba transparan, banyak senior yang merasa kehilangan “pegangan”. Mereka gagap menghadapi perubahan sistem yang tidak lagi menghargai tumpukan berkas fisik.

Maka, mereka melarikan diri ke masa lalu. “Dulu itu, zamannya Pak Anu, kita tidak perlu aplikasi begini. Cukup surat selembar, urusan beres,” kata mereka sambil menyeruput teh hangat. Mereka meromantisasi masa lalu yang (mungkin) penuh dengan kemudahan-kemudahan non-prosedural, sebagai bentuk pertahanan diri karena mereka malas—atau takut—untuk belajar hal baru.

Nostalgia di kantor dinas bukan sekadar obrolan kosong. Ia adalah bentuk legitimasi kekuasaan. Dengan terus menceritakan sejarah kantor, sang senior ingin menegaskan bahwa dia punya “pengalaman” yang tidak dimiliki oleh anak-anak muda yang hanya pintar main gadget itu. Padahal, pengalaman tanpa adaptasi sering kali hanyalah kumpulan kebiasaan buruk yang dipelihara selama puluhan tahun.

“Gap” Digital: Ketika Instruksi Kalah oleh Teknologi

Masalah terbesar dari senioritas ini muncul saat berhadapan dengan digitalisasi. Sering kali terjadi situasi yang canggung: seorang staf muda yang secara hierarki adalah bawahan, secara teknis jauh lebih menguasai medan daripada atasannya yang senior.

Terjadilah fenomena “Pemerintahan Bayangan”. Secara administratif, sang senior yang menandatangani laporan, tapi secara intelektual, isi laporan itu 100% adalah hasil pemikiran sang staf muda. Sang senior hanya bertugas sebagai “pintu gerbang” formalitas.

Ini menciptakan rasa frustrasi bagi yang muda. Mereka merasa idenya sering kali disunat atau bahkan diakui sebagai ide sang senior. Sebaliknya, sang senior merasa terancam posisinya. Untuk menutupi rasa minder karena tidak tahu teknologi, mereka sering kali menggunakan “kekuasaan jabatan” untuk menekan yang muda. “Kamu itu masih hijau, jangan terlalu idealis,” adalah kalimat penutup diskusi yang paling mujarab untuk membungkam inovasi.

Etika “Nunggu Senior Pulang”

Senioritas juga menciptakan budaya kerja yang tidak efisien, salah satunya adalah budaya “Sungkan Pulang Duluan”. Banyak pegawai muda yang sebenarnya pekerjaannya sudah selesai pukul empat sore, tapi mereka tidak berani beranjak dari kursi karena sang bos senior masih asyik membaca koran atau mengobrol di ruangannya.

Pulang sebelum senior dianggap tidak sopan, tidak punya dedikasi, atau dicap “ingin cepat-cepat pulang”. Akhirnya, yang muda duduk diam sambil pura-pura sibuk, hanya untuk menunggu sang senior beranjak dari kursinya. Ini adalah pemborosan waktu yang luar biasa hanya demi menjaga perasaan dan etika semu.

Birokrasi kita masih sangat terikat pada “fisik”. Kehadiran fisik dianggap lebih penting daripada output kerja. Selama senior masih ada di kantor, maka kantor dianggap masih bekerja, meskipun isinya hanya nostalgia dan aroma minyak kayu putih.

Regenerasi yang Tersumbat Ego Masa Lalu

Bahaya laten dari senioritas yang berlebihan adalah tersumbatnya regenerasi. Banyak posisi strategis masih dipegang oleh mereka yang cara berpikirnya masih “zaman batu”, sementara anak-anak muda yang punya visi progresif dibiarkan mengantre di barisan belakang.

Ada ketakutan dari para senior bahwa jika yang muda naik terlalu cepat, maka “tata krama” birokrasi akan rusak. Mereka lupa bahwa birokrasi bukan organisasi sosial keagamaan yang dasarnya adalah umur, melainkan organisasi pelayanan publik yang dasarnya adalah kompetensi.

Kita sering melihat jabatan kepala bidang atau kepala dinas diberikan kepada mereka yang “sudah waktunya” (secara usia), bukan kepada mereka yang “sudah mampu” (secara kapasitas). Akibatnya, organisasi berjalan lambat, seperti mobil mewah yang disopiri oleh orang yang penglihatannya sudah mulai kabur dan kakinya sudah gemetar menginjak pedal gas.

Sisi Positif: Senioritas sebagai Penyeimbang

Tentu, tidak semua senioritas itu buruk. Kita tetap butuh mereka yang punya “jam terbang” tinggi untuk mengingatkan tentang etika birokrasi dan cara menghadapi konflik antar-lembaga yang sering kali sangat politis.

Yang muda memang pintar teknologi, tapi mereka sering kali kurang sabar dan terlalu meledak-ledak. Di sinilah peran senior yang benar-benar bijaksana—bukan yang cuma hobi bernostalgia—menjadi sangat penting. Senior yang baik adalah mereka yang mau menjadi “jembatan”, bukan menjadi “tembok”. Mereka yang bangga melihat bawahannya lebih pintar dari mereka, dan mereka yang memberikan ruang bagi yang muda untuk bereksperimen.

Sayangnya, jumlah senior yang menjadi jembatan ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang memilih menjadi tembok.

Menuju Birokrasi yang Menghargai Kapasitas

Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Hormat pada yang lebih tua adalah kewajiban sebagai manusia, tapi dalam urusan profesionalisme kantor, kapasitas harus menjadi panglima.

Jangan biarkan birokrasi kita terus-menerus terjebak dalam romantisme masa lalu. Dunia di luar sana bergerak secepat kilat. Masalah rakyat hari ini tidak bisa diselesaikan dengan cerita sukses tahun 1995. Kita butuh tenaga muda yang bekerja, dan kita butuh senior yang mengayomi, bukan senior yang hanya menjadi “beban” bagi bawahannya.

Kita butuh kantor dinas yang atmosfernya adalah atmosfer kerja, bukan atmosfer panti jompo administratif. Yang tua harus mulai belajar dari yang muda soal teknologi, dan yang muda harus belajar dari yang tua soal ketenangan dalam mengambil keputusan.

Penutup

Pada akhirnya, masa jabatan setiap orang di birokrasi akan berakhir. Pensiun adalah kepastian. Pertanyaannya, saat Anda pensiun nanti, apa yang Anda tinggalkan? Apakah Anda meninggalkan sebuah sistem yang maju dan staf yang handal karena Anda berikan ruang bertumbuh? Ataukah Anda hanya meninggalkan tumpukan cerita nostalgia yang akan segera dilupakan begitu Anda keluar dari pintu kantor?

Bagi rekan-rekan muda yang saat ini merasa menjadi “kuda beban” bagi seniornya: bersabarlah. Gunakan waktu ini untuk belajar segala hal, bahkan hal yang bukan tugasmu. Karena suatu saat nanti, kalianlah yang akan menjadi senior. Saat hari itu tiba, ingatlah betapa lelahnya menjadi muda di bawah bayang-bayang nostalgia, dan berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang sama.

Selebihnya? Ya sudah, mari kita kembali bekerja. Wah, itu si Bapak Senior sudah mulai berdehem dan membuka album foto lama. Siapkan telinga, siapkan senyum sopan, dan jangan lupa, pastikan laporan PDF-nya selesai tepat waktu meskipun beliau tidak tahu cara membukanya. Amin.

Loading