Dunia birokrasi kita belakangan ini baunya agak beda. Bukan lagi bau apek tumpukan berkas, tapi mulai tercium aroma minyak senjata dan semir sepatu yang mengkilap.
Judulnya saja sudah bikin debat di warung kopi: Gaya Kepemimpinan Militeristik di Birokrasi: Disiplin atau Pengekangan Inovasi?
Ada yang senang. Katanya, birokrasi kita memang perlu “dipecut”. Perlu disemprot supaya bangun dari tidur panjangnya. Tapi ada juga yang was-was. Katanya, kalau semua pakai gaya komando, nanti ASN kita cuma jadi robot yang pintar bilang “siap bos” tapi takut buat terobosan.
Saya teringat waktu Pak Prabowo membawa menteri-menterinya ke Akademi Militer di Magelang. Tidur di tenda. Pakai seragam loreng. Bangun pagi pakai peluit. Itu pesan simbolisnya kuat sekali: “Saya ingin kalian disiplin. Saya ingin kalian satu barisan.”
Tapi, mari kita bedah pelan-pelan. Tanpa perlu pakai seragam loreng.
Disiplin yang Selama Ini “Barang Mewah”
Jujur saja, salah satu penyakit kronis birokrasi kita adalah disiplin yang elastis. Kayak karet. Bisa ditarik-ulur sesuka hati.
Rapat dijadwalkan jam 9, menterinya datang jam 10, anak buahnya baru lengkap jam 11. Hasilnya? Keputusan yang harusnya selesai sebelum makan siang, baru diputuskan saat matahari sudah mau tenggelam. Itu pun kalau tidak ada agenda “lanjut besok”.
Gaya militeristik masuk ke sini seperti obat pahit. Ia menawarkan ketepatan waktu, hierarki yang jelas, dan kepatuhan pada perintah. Di militer, kalau komandannya bilang A, ya A. Tidak ada itu diskusi di tengah jalan yang ujung-ujungnya cuma buat menghambat kerja.
Bagi banyak orang, ini menyegarkan. Kita lelah lihat pejabat yang banyak alasan. Dengan gaya komando, ada harapan bahwa program-program raksasa pemerintah—seperti ketahanan pangan atau energi—bisa dieksekusi dengan presisi. Tidak ada lagi ceritanya anggaran “nyasar” karena anak buahnya punya agenda sendiri-sendiri.
Disiplin adalah fondasi. Tanpa disiplin, inovasi sehebat apa pun cuma akan jadi sketsa di atas kertas. Masalahnya: apakah disiplin saja cukup untuk mengurus negara yang isinya bukan prajurit, tapi warga sipil dengan segala kerumitannya?
Inovasi Tidak Bisa “Siap Gerak!”
Nah, di sinilah letak perdebatannya.
Militer itu dibangun untuk kepatuhan mutlak. Garis komandonya vertikal. Atas ke bawah. Di medan perang, memang harus begitu. Kalau prajurit masih debat soal estetika taktik saat peluru sudah lewat di atas kepala, ya wasalam.
Tapi birokrasi pelayanan publik itu beda. Birokrasi itu mengurus manusia, pasar, teknologi, dan perasaan masyarakat.
Inovasi itu sifatnya cair. Ia butuh ruang untuk bertanya “Kenapa?”. Ia butuh keberanian untuk bilang “Pak, cara ini salah, ada cara yang lebih cepat.” Inovasi lahir dari diskusi, dari perdebatan, dan kadang-kadang dari pembangkangan yang kreatif.
Bayangkan kalau ada ASN muda yang jago IT, punya ide brilian untuk memangkas birokrasi di kementeriannya. Tapi karena gaya kepemimpinannya terlalu militeristik, dia jadi takut bicara. Dia takut dibilang tidak loyal atau melangkahi atasan.
Akhirnya, dia cuma bisa bilang “Siap, Pak!” sambil melihat sistem yang usang tetap dijalankan. Itu namanya Kematian Inovasi dalam Barisan.
Kita tidak ingin birokrasi kita jadi barisan patung. Gagah dilihat, rapi dipandang, tapi tidak bisa berpikir di luar kotak. Kita ingin birokrasi yang disiplin seperti militer dalam hal eksekusi, tapi fleksibel seperti perusahaan rintisan (startup) dalam hal mencari solusi.
Belajar dari “Command Center”
Sebenarnya, militer modern pun sudah mulai berubah. Mereka punya yang namanya mission command. Komandan kasih tahu tujuannya apa, anak buah di lapangan dikasih kebebasan buat cari cara mencapainya.
Ini yang harusnya diadopsi oleh birokrasi kita.
Pak Prabowo mungkin ingin disiplin militer itu masuk ke mentalitas kerja. Bagus. Tapi jangan sampai masuk ke cara berpikir. Mentalitas harus baja, tapi otak harus tetap seperti spons—bisa menyerap ide dari mana saja.
Kita jangan terjebak pada simbol-simbol luar saja. Pakai seragam keren, baris-berbaris rapi, tapi kalau pelayanan di loket tetap lambat, ya buat apa? Kalau urus izin tetap harus pakai “pelicin”, ya lorengnya jadi tidak ada harganya.
Kedisiplinan militer harusnya diterjemahkan menjadi Efisiensi.
Satu komando harusnya diterjemahkan menjadi Tidak Ada Ego Sektoral.
Loyalitas harusnya diterjemahkan menjadi Setia pada Rakyat, bukan cuma pada atasan.
Tantangan Generasi Z di Kantor Dinas
Ada satu variabel lagi: ASN kita sekarang mulai diisi anak-anak muda. Generasi Z.
Mereka ini generasi yang lahir dengan internet di tangan. Mereka tidak suka dengan gaya-gaya yang terlalu kaku. Mereka ingin lingkungan kerja yang terbuka. Kalau mereka “ditekan” dengan gaya militeristik yang terlalu keras, pilihannya cuma dua: mereka jadi apatis, atau mereka keluar dan pindah ke swasta.
Padahal, kita butuh otak mereka. Kita butuh kelincahan mereka untuk menghadapi era digital.
Maka, tantangan bagi para pemimpin di kabinet sekarang adalah bagaimana meramu “ketegasan” ala militer dengan “keterbukaan” ala era informasi.
Birokrasi kita butuh shaper (pembentuk), bukan sekadar commander (pemberi perintah). Pemimpin yang bisa membentuk lingkungan kerja yang disiplin tanpa membunuh kreativitas bawahannya.
Penutup: Hasil Akhir Adalah Segalanya
Pada akhirnya, rakyat tidak peduli menterinya pakai sepatu lars atau sepatu kets. Rakyat tidak peduli rapatnya dimulai dengan upacara atau dengan minum kopi santai.
Yang rakyat tagih adalah hasil.
Kalau gaya militeristik ini bisa membuat proyek jalan tol selesai tepat waktu tanpa korupsi, rakyat akan dukung. Kalau gaya komando ini bisa membuat distribusi pangan lancar sampai ke pelosok, rakyat akan puji.
Tapi kalau gaya militeristik ini cuma dipakai untuk membentak bawahan, untuk menutupi ketidakmampuan berinovasi, atau untuk antikritik terhadap kebijakan yang salah, maka gaya itu akan jadi bumerang.
Disiplin itu alat. Inovasi itu ruh.
Jangan sampai kita punya tubuh birokrasi yang kekar dan disiplin, tapi tidak punya ruh untuk memberikan solusi bagi masalah rakyat yang semakin hari semakin rumit.
Mari kita lihat setahun ke depan. Apakah barisan birokrasi ini akan bergerak maju dengan langkah tegap, atau malah sibuk merapikan barisan sementara musuh—yaitu kemiskinan dan keterlambatan—sudah lari jauh di depan.
Saya sih berharap, birokrasi kita bisa seperti Kopassus: senyap dalam bergerak, tapi sasarannya tercapai dengan sempurna. Sasarannya satu: kesejahteraan rakyat.
Siap, gerak! Tapi jangan lupa, otak tetap harus jalan.
![]()






