Menakar Kekuatan APBN 2026 Menghadapi Krisis Energi Global

Angkanya raksasa. Triliunan. Ribuan triliun. Itulah APBN kita. Tapi di depan harga minyak dunia yang lagi “gila”, angka itu bisa mendadak terlihat kecil. Sangat kecil.

Penyebabnya jelas: Perang Iran-Israel. Timur Tengah membara. Jalur pasokan minyak tersendat. Harga per barel melompat-lompat seperti kutu loncat.

Lalu, seberapa kuat APBN 2026 kita menahan gempuran ini?

Jujur saja: Berat. Sangat berat.

Pemerintah kita itu punya “penyakit” bawaan kalau soal energi. Namanya subsidi. Begitu harga minyak dunia naik, subsidi kita ikut membengkak. Uang negara yang harusnya untuk bangun jalan, bangun sekolah, atau naikin tunjangan ASN, terpaksa “dibakar” di knalpot kendaraan.

Bayangkan. Setiap kenaikan satu dolar harga minyak dunia, beban APBN kita bertambah triliunan rupiah. Padahal kenaikannya sekarang bukan satu-dua dolar lagi. Sudah puluhan dolar.

Menteri Keuangan pasti sedang pusing tujuh keliling. Kalkulatornya mungkin sampai panas.

Hitung-hitungannya begini. Pendapatan negara kita memang naik dari sektor komoditas. Tapi kenaikan itu tidak cukup untuk menutup lubang subsidi BBM yang menganga lebar. Selisihnya itu yang bikin sesak napas.

Maka, keluarlah jurus-jurus penyelamatan. Salah satunya yang paling terasa: Efisiensi birokrasi.

ASN jadi sasaran pertama. WFH diberlakukan lagi. Perjalanan dinas dipangkas habis. Rapat-rapat di hotel mewah dilarang. Semua harus serba virtual.

Kenapa ASN? Karena birokrasi adalah mesin pengguna anggaran terbesar. Kalau mesin ini bisa dihemat konsumsi energinya, beban APBN bisa sedikit berkurang. Napas pemerintah bisa sedikit lebih panjang.

Tapi apakah itu cukup?

Tentu tidak. Pemerintah juga harus mulai “tegas” soal MyPertamina. Pembatasan 50 liter per hari itu bukan tanpa alasan. Itu adalah cara mengerem laju jebolnya tanggul APBN. Kalau tidak direm, tanggul itu bisa pecah. Kalau pecah, ekonomi kita bisa hanyut.

Kita harus akui, APBN 2026 ini sedang dalam ujian nyali.

Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga daya beli rakyat agar tidak jatuh. Di sisi lain, cadangan kas negara tidak boleh habis hanya untuk urusan bensin.

Ini seperti berjalan di atas tali tipis. Salah langkah sedikit, jatuh.

Untungnya, kita punya pengalaman. Dulu saat pandemi COVID-19, APBN kita juga diuji habis-habisan. Kita bisa selamat. Sekarang, musuhnya beda. Bukan virus, tapi mesiu dan minyak.

Kekuatan APBN kita sebenarnya ada pada fleksibilitasnya. Pemerintah mulai berani mengalihkan anggaran non-prioritas ke sektor ketahanan energi. Pembangunan gedung-gedung baru ditunda. Proyek yang tidak mendesak dimasukkan kotak dulu.

Fokusnya cuma satu: Rakyat jangan sampai kelaparan karena harga barang naik gara-gara BBM.

Namun, kita tidak boleh cuma mengandalkan APBN. Rakyat—terutama para abdi negara—harus ikut membantu. Caranya? Ya itu tadi. Hemat energi.

Satu liter bensin yang Anda hemat hari ini, adalah satu rupiah yang terselamatkan untuk masa depan anak cucu kita.

APBN 2026 memang sedang tertekan. Tapi ia belum menyerah. Ia masih berusaha berdiri tegak di tengah badai geopolitik global yang tidak menentu.

Kita hanya bisa berharap, perang di sana segera reda. Agar angka-angka di APBN kita tidak lagi berwarna merah membara. Agar kita bisa kembali fokus membangun, bukan cuma fokus bertahan hidup.

Memang sulit. Tapi itulah seni mengelola negara besar di tengah krisis besar.

Mari kita doakan agar para pengelola uang negara kita tetap waras dan cerdas. Sebab di tangan merekalah, nasib dompet kita semua bergantung.

Begitulah. Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi kita harus tetap optimis. Selama kita mau berbagi beban, seberat apa pun krisisnya, pasti ada jalan keluarnya.

Loading