Perang itu mahal. Sangat mahal. Apalagi kalau yang perang Iran dan Israel. Melibatkan Amerika pula.
Kita yang di sini, di Indonesia, mungkin merasa jauh. Ribuan kilometer. Tapi jangan salah. Rudal yang terbang di langit Teheran itu, getarannya sampai ke dompet para ASN kita. Sampai ke slip gaji yang biasanya ludes di tanggal sepuluh.
Kenapa bisa begitu?
Sederhana saja. Minyak.
Dunia ini masih sangat tergantung pada minyak. Dan Timur Tengah adalah dapurnya. Kalau dapur terbakar, semua orang yang lapar akan teriak. Harga minyak dunia melonjak. Tembus angka yang tidak masuk akal.
Pemerintah kita pening. APBN kita tidak sekuat itu untuk menahan beban subsidi yang terus membengkak. Maka, kebijakan pun keluar. Harga BBM naik. Pertamax melonjak, Pertalite dibatasi.
Lalu, apa urusannya dengan kantong ASN?
Banyak. Sangat banyak.
Pertama, biaya transportasi. ASN kita itu mobilitasnya tinggi. Ada yang rumahnya di Bekasi, kantornya di Lapangan Banteng. Ada yang di Depok, kantornya di Sudirman. Kalau bensin naik, pengeluaran harian otomatis membengkak.
Dulu, uang bensin mungkin cukup 500 ribu sebulan. Sekarang? Satu juta pun belum tentu cukup. Itu artinya apa? Jatah belanja dapur berkurang. Jatah susu anak terpotong.
Kedua, harga barang pokok. Ini hukum alam ekonomi. Kalau bensin naik, biaya angkut naik. Cabe yang dibawa dari pasar induk jadi lebih mahal. Beras dari penggilingan di Jawa Tengah sampai ke Jakarta harganya sudah beda.
ASN yang gajinya bersifat “fix income”—tetap segitu-gitu saja—paling terasa dampaknya. Inflasi adalah musuh nyata di depan meja makan.
Ketiga, perjalanan dinas. Biasanya ini jadi “tambahan” yang lumayan bagi ASN. Tapi sekarang, anggaran perjalanan dinas dipangkas habis-habisan. Pemerintah sedang melakukan efisiensi besar-besaran. Uang SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) yang biasanya bisa dipakai untuk bayar cicilan motor, kini tinggal cerita.
Semua dialihkan untuk menambal lubang subsidi energi.
Tapi pemerintah tidak tinggal diam. Ada kompensasinya. Itulah mengapa muncul kebijakan WFH satu hari dalam seminggu.
Itu sebenarnya cara pemerintah menyelamatkan kantong ASN. Dengan bekerja dari rumah, ASN tidak perlu mengeluarkan uang bensin. Tidak perlu bayar tol. Tidak perlu jajan makan siang di luar yang harganya juga ikut naik.
Pemerintah ingin ASN berhemat secara paksa. Demi kebaikan kantong mereka sendiri.
Namun, ada dampak yang lebih dalam. Dampak psikologis.
ASN sekarang harus mulai hidup minimalis. Tidak bisa lagi gaya-gayaan. Perang Iran-Israel ini jadi pengingat keras. Bahwa stabilitas ekonomi kita itu rapuh. Sangat tergantung pada situasi geopolitik global.
Gaji ASN mungkin tidak turun. Tapi nilai tukarnya di pasar tradisional yang merosot. Daya belinya loyo.
Maka, kuncinya cuma satu: Adaptasi.
ASN harus pintar-pintar mengelola uang. Harus mulai melirik transportasi publik yang disubsidi. Harus mulai membiasakan diri dengan rapat-rapat virtual yang hemat biaya.
Perang di sana memang menyakitkan. Bukan hanya bagi mereka yang tertembak rudal. Tapi juga bagi kita yang harus berjuang mengatur sisa gaji di akhir bulan.
Kita semua berharap perang segera usai. Tapi sambil menunggu, ikat pinggang harus ditarik lebih kencang. Terutama bagi para abdi negara.
Sebab, kantong ASN adalah cerminan kecil dari kantong negara. Kalau kantong ASN bolong, tandanya ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja.
Mari kita berhemat. Bukan karena pelit. Tapi karena keadaan sedang memaksa kita untuk menjadi lebih bijak.
Begitulah kenyataannya. Pahit, tapi harus dijalani.
![]()






